Friday, August 07, 2015

UMMU SHALIH (82 TAHUN) HAFAL AL-QURAN


Artikel ini diambil dari Majalah Ad-Dakwah yang selalu menyajikan kepada para pembacanya kisah-kisah yanq penuh tauladan dan juga berbagai informasi yang menggetarkan .Berikut ini adalah salah satu pengalaman nyata yang dimuat dalam majalah tersebut. Mari kita ikuti bersama!

Ummu Shalih. 82 tahun, mulai menghafal Al-Qur’an pada usianya yang ke-70. Pencapaiannya dalam hafalan Al-Qur’an, sungguh sangat mengujakan. Cita-citanya yang tinggi, kesabaran, dan juga pengorbanannya patut kita teladani.Juga amat wajar untuk dijadikan cabaran kepada diri kita untuk sama-sama seperti beliau.Jika beliau boleh melakukannya di usia sebegitu tentunya tidak mustahil bagi kita di usia yang lebih muda.

Inilah hasil wawancara dengan Ummu Shalih.

Motivasi apa yang mendorong Anda untuk menghafalkan Al-Qur’an pada umur yang setua ini?

Sebenarnya, cita-cita saya untuk menghafal Al-Qur’an sudah tumbuh sejak kecil. Waktu itu ayah selalu mendoakan saya agar menjadi hafizhah Al-Qur’an seperti beliau dan juga seperti saudara lelaki saya. Disebabkan itulah, saya mampu menghafal beberapa surah —kira-kira 3 juz.

Ketika usia saya menginjak 13 tahun, saya berkahwin. Tentunya setelah itu saya tersibukkan dengan urusan rumahtangga dan anak-anak. Ketika telah dikurniakan 7 (tujuh) orang anak, suami saya meninggal dunia. Ketika itu anak-anak masih kecil lagi, maka seluruh waktu saya digunakan untuk mengurus dan mendidik mereka.

Nah, ketika mereka sudah dewasa dan berkeluarga, maka waktu saya pun kembali luang. Dan hal yang pertama sekali saya tunaikan adalah mencurahkan tenaga dan waktu saya untuk mewujudkan cita-cita agung saya yang tertunda untuk menghafal Kitabullah Azza wa Jalla.

Bagaimana awal perjalanan Anda dalam menghafal?

Saya mulai menghafal kembali ketika putri bungsu saya masih di bangku Tsanawiyah (SMP). Dia salah satu putri saya yang paling akrab denganku, dan dia sangat menyayangi saya. Sebab kakak-kakak telah berkahwin dan disibukkan dengan kehidupan baru mereka sedangkan dia tinggal bersama saya. Dia sangat santun, jujur, dan mencintai kebaikan.

Putri bungsu saya ini pun juga bercita-cita untuk menghafal Al-Qur’an—terlebih ketika ustadzahnya memberi semangat kepadanya. Dari sinilah, saya dan dia menghafal Al-Qur’an, setiap hari 10 ayat.

Bagaimana kaedah yang Anda gunakan untuk menghafal?

Setiap hari, kami hanya menghafal 10 ayat saja. Selepas solat Asar, kami selalu duduk bersama. Putri saya membaca ayat, kemudian saya menirukannya hingga 3 (tiga) kali. Setelah itu putri saya pun menerangkan makna dari ayat-ayat yang kami baca itu. Selepas itu kami membaca kembali ayat-ayat tersebut hingga 3 (tiga) kali.

Keesokan harinya, sebelum berangkat ke sekolah putri saya mengulangi ayat-ayat tersebut untuk saya. Tak cukup itu saja, saya pun menggunakan tape recorder untuk mendengar murattal Syaikh Al-Hushairi, dan saya mengulanginya hingga 3 (tiga) kali. Saya pun mendengar murattal tersebut pada sebagian besar waktu saya.

Kami menetapkan hari Jumaat, khusus untuk mengulangi kembali ayat-ayat yang kami hafal selama satu minggu. Demikianlah seterusnya, saya dan putri bungsu saya selalu menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dengan cara tersebut.

Bilakah Anda selesal menghafal seluruh Al-Qur’an?

Kira-.kira 4,5 tahun berlalu saya sudah hafal 12 Juz dengan cara yang telah saya sebutkan. Kemudian putri saya itu berkahwin.Bila suaminya mengetahui kebiasaan kami, dia pun menyewa sebuah rumah yang dekat dengan rumah saya untuk memberikan kesempatan kepada kami untuk menyempurnakan hafalan kami.

Semoga Allah membalas kebaikan menantuku dengan kebaikan yang lebih baik. Dialah yang selalu memberi semangat kepada kami, bahkan terkadang dia menemani kami untuk menyemak hafalan kami, menafsirkan ayat-ayat yang kami baca, dan juga memberikan pelajaran-pelajaran berharga kepada kami.

Tiga tahun kemudian, putri saya tersibukkan dengan urusan anak-anaknya dan pekerjaan rumahnya,sehingga tidak boleh melazimi kebiasaan yang telah kami jalani. Putri saya pun merasa khawatir hafalanku menjadi terbengkalai. Maka, putri saya pun mencarikan untuk saya seorang ustadzah agar dapat menemani saya menyempurnakan hafalan saya.

Dengan taufik Allah Azza Wajalla saya pun telah sempurna menghafalkan seluruh Al-Qur’an. Semangat putri saya pun masih membara untuk menyusul saya menjadi hafizhah Al-Qur’an. Bahkan, tidak mengendur sedikit pun.

Cita-cita Anda sangat tinggi, dan Anda pun telah mewujudkannya. Siapakah sosok wanita di sekitar Anda yang selalu mendukung Anda?

Motivasi saya telah jelas dan terang. Putri-putri saya, juga para menantu perempuan saya pastinya selalu mendukung saya. Walau hanya satu jam, kami sepakat untuk mengadakan pertemuan seminggu sekali. Dalam pertemuan itu kami menghafal beberapa surah, dan saling menyemak hafalan. Terkadang pertemuan itu pun tergendala.Tetapi kemudian kami bersepakat kembali untuk bertemu. Saya yakin, niat mereka semua sangat baik.

Tak ketinggalan pula, cucu-cucu perempuan saya yang selalu memberikan kaset-kaset murattal Al-Qur’an. Hingga saya pun selalu memberi mereka bermacam-macam hadiah.

Awalnya, tetangga-tetangga saya juga tidak simpatik dengan cita-cita saya. Mereka selalu mengingatkan saya betapa sulitnya menghafal di usia yang daya ingatanya telah lemah. Tetapi ketika mereka melihat kebulatan tekad saya, akhirnya mereka pun berbalik menyokong dan memberi semangat. Ada di antara tetangga yang juga ikut terikut semangatnya untuk menghafal, dan sedikit demi sedikit hafalannya pun mulai bertambah.
Ketika tetangga-tetangga saya mengetahui bahwa saya telah khatam menghafal seluruh Al-Qur’an, mereka pun sangat berbahagia. Hingga saya lihat air mata bahagia menetes di pipi mereka.

Sekarang, apakah Anda merasa kesulitan untuk muraja’ah (mengulangi) hafalan?

Saya selalu mendengarkan murattal Al-Qur’an, dan menirukannya. Demikian juga ketika shalat, saya selalu membaca beberapa surat panjang. Terkadang pula saya meminta salah seorang putri saya untuk menyemak hafalan saya.

Di antara putra-putri Anda, adakah yang juga hafizh seperti Anda?

Tak ada satu pun dari mereka yang hafal keseluruhan Al-Qur’an. Tetapi, Insya Allah mereka selalu berusaha mencapai cita-cita menjadi hafizh. Semoga Allah menyampaikan mereka pada hal tersebut dengan bimbingan-Nya.

Setelah hafal Al-Qur’an, tidak terpikirkan untuk menghafal hadits?

Saat ini, saya telah hafal 90 hadits, dan saya tetap berkeinginan untuk melanjutkannya, Insya Allah. Saya menghafalnya dengan mendengarkan dari kaset. Pada setiap hujung minggu, putri saya membacakan untuk saya 3 (tiga) hadits. Sekarang, saya telah mencoba untuk menghafal hadits lebih banyak lagi.

Setelah kurang lebih 12 tahun Anda disibukkan dengan menghafal Al-Qur’an, perubahan apa yang Anda rasakan dalam kehidupan Anda?

Benar, saya merasakan perubahan yang mendasar dalam diri saya. Walau sebelum menghafal - Alhamdulillah - saya selalu menjaga diri untuk senantiasa dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.Setelah disibukkan dengan menghafalkan Al-Qur’an, justru saya merasakan kelapangan hati yang tak terkira, dan hilanglah seluruh kecemasan dalam diriku. Saya pun tidak pernah menyangka akan terbebas dari perasaan khawatir terhadap urusan-urusan yang menimpa anak-anak saya.

Moral dan spirit saya benar-benar terangkat. Hingga saya pun rela berpayah-payah untuk mewujudkan kerinduan saya dalam mewujudkan cita-cita saya. Inilah nikmat terbesar yang diberikan oleh Sang Khaliq Azza Wajalla kepada saya sebagai wanita tua, suami pun telah tiada, dan juga anak-anaknya pun mulai berkeluarga.

Di saat wanita lanjut usia lainnya terjebak dalam angan-angan dan lamunan. Tetapi aku -  Alhamdulillah - tidak merasakan hal yang demikian. Saya benar-benar tersibukkan dengan urusan besar yang memiliki faedah di dunia dan akhirat.

Ketika itu, apakah Anda tidak berpikir untuk mendaftarkan diri pada sebuah pesantren penghafal Al-Qur’an?

Pernah beberapa wanita yang mengusulkan kepada saya, tapi saya adalah wanita yang terbiasa untuk berdiam diri di dalam rumah dan jarang sekali keluar rumah. Alhamdulillah, karena putri saya telah mencukupkan segalanya dan membantu saya dalam segala urusan. Sungguh, putri saya benar-benar tidak ada duanya. Saya pun telah banyak mengambil pelajaran darinya.

Apa yang terkesan dalam diri Anda tentang putri bungsu Anda yang telah membimbing dan mendampingi Anda?

Putri bungsu saya telah memberikan pelajaran mengagumkan dalam kebaikan dan kedermawanan yang keduanya sulit ditemui pada zaman sekarang. Terlebih dia mendampingi saya menghafal Al-Qur’an pada usia tua. Padahal,usia ini adalah usia labil yang mudah terombang-ambing dan tergoda dengan keadaan yang menjerumuskan.

Tidak seperti umumnya teman-teman seusianya, putri saya memaksakan diri untuk meluangkan waktunya untuk mendampingi saya. Dia pun mengajari dan mendampinqi saya dengan tekun, sabar, dan penuh kelembutan. Suaminya pun demikian,semoga Allah senantiasa menjaganya, selalu menolong dan telah memberikan bantuan yang begitu banyak. Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan kepada mereka berdua dan menyejukkan pandangan mata mereka dengan anak-anak yang shalih.

Apa saran Anda kepada wanita yang telah lanjut usia, dan menginginkan untuk dapat menghafalkan Al-Qur’an, tetapi terhalang oleh rasa khawatir dan merasa tidak mampu untuk melaksanakannya?

Saya katakan, “Jangan berputus asa terhadap cita-cita yang benar. Teguhkanlah keinginanmu, bulatkan tekadmu, dan berdoalah kepada Allah di setiap waktu. Kemudian, mulailah sekarang juga. Setelah umurmu berlalu dan kau curahkan seluruhnya untuk memenuhi tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga, mendidik anak, dan mengurus suami. Maka sekarang saatnyalah Anda memanjakan diri. Bukan berarti kemudian memperbanyak keluar rumah, memuaskan diri dengan tidur, bermewah-mewah, dan banyak beristirahat. Tetapi memanjakan diri dengan amal shalih. Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kita memohon khusnul khatimah.

Nasihat Anda terhadap para remaja?

Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Nikmat Allah berupa kesehatan, dan banyaknya waktu luangmu, maksimalkanlah untuk menghafal kitab Allah Azza Wa Jalla. Inilah cahaya yang akan menyinari hatimu, hidupmu, dan kuburmu setelah engkau mati.

Jika kalian masih memiliki ibu, bersungguh-sungguhlah dalam membimbingnya menuju ketaatan kepada Allah. Demi Allah, tidak ada nikmat yang lebih dicintai seorang ibu kecuali seorang anak shalih yang mau menolongnya untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza Wa Jalla.

(diterjemahkan dari quraan-sunna.com)
sumber : http://kodeprogram.wordpress.com/kisah-inspiratif/

No comments:

Post a Comment