Saturday, August 22, 2015

BOLEHKAH MEMBACA AL-QURAN TANPA SUARA?

Bolehkah membaca Quran tanpa suara?
Semak selengkapnya…

Sahabat Ummi yang suka baca tilawah Quran di kendaraan umum, atau membaca Quran di malam hari ketika banyak yang sudah terlelap, biasanya ada saja yang tidak mengeluarkan suara dengan alasan malu, suara wanita adalah aurat, takut mengganggu yang lain, dan alasan lain sebagainya. 
Sebenarnya apakah diperbolehkan membaca Quran tanpa suara seperti ini?
Mari kita semak hadits berikut ini:
“Membaca Al Qur’an dengan suara keras, seperti bersedekah tanpa disembunyikan. Membaca Al Qur’an dengan lirih, seperti bersedekah dengan sembunyi-sembunyi” (HR. Tirmidzi no.2919, Abu Daud no.1333, Al Baihaqi, 3/13. Di-shahih-kan oleh Al Albani di Shahih Sunan At Tirmidzi)
Jelas bahwa membaca Quran dengan lirih tentunya berbeda dengan membaca Quran tanpa suara, bahkan dalam hati saja tanpa menggerakkan bibir sama sekali. Membaca dengan lirih ertinya tetap bersuara walau hanya boleh didengar oleh diri sendiri. Dan hukumnya membaca Quran dengan lirih seperti ini tak mengapa, justru boleh dibilang sangat baik:

الا إن كلكم مناج ربه فلا يؤذين بعضكم بعضا ولا يرفع بعضكم على بعض في القراءة أو قال في الصلاة
“Ketahuilah, kalian semua sedang bermunajat kepada Allah, maka janganlah saling mengganggu satu sama lain. Janganlah kalian mengeraskan suara dalam membaca Al Qur’an,’ atau beliau berkata, ‘Dalam shalat’,” (HR. Abu Daud no.1332, Ahmad, 430, di-shahih-kan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Nata-ijul Afkar, 2/16).
Lalu bagaimana hukumnya membaca Quran tanpa gerakan bibir dan tanpa suara sekecil apapun yang keluar? Bolehkah?
Pertanyaan sejenis pernah ditanyakan kepada Syaikh Ibnu Baz, beliau menjawab:
“Berdzikir itu harus menggerakan lidah dan harus bersuara, minimal didengar oleh diri sendiri. Orang yang membaca di dalam hati (dalam bahasa arab) tidak dikatakan Qaari. Orang yang membaca tidak dapat dikatakan sedang berdzikir atau sedang membaca Al Quran kecuali dengan lidah. Minimal didengar dirinya sendiri. Kecuali jika ia bisu, maka ini ditoleransi” (Kaset Nurun ‘alad Darb)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin juga pernah ditanya hal serupa, beliau menjawab:
“Qira’ah itu harus dengan lidah. Jika seseorang membaca bacaan-bacaan shalat dengan hati saja, ini tidak dibolehkan. Demikian juga bacaan-bacaan yang lain, tidak boleh hanya dengan hati. Namun harus menggerakan lidah dan bibirnya, barulah disebut sebagai aqwal (perkataan). Dan tidak dapat dikatakan aqwal, jika tanpa lidah dan bergeraknya bibir” (Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin, 13/156)
Dengan demikian jelaslah sudah bahwa selelah apapun dan seserak apapun suara kita, ketika membaca quran mestilah menggerakkan bibir sebagai pertanda kita sedang bertilawah. Jika tidak demikian makanya tidak dikategorikan sedang membaca Quran. Wallaahu alam.

No comments:

Post a Comment