Tuesday, August 18, 2015

PERJALANAN AKU YANG BARU,INSHA ALLAH!

KITA SEBENARNYA WARISI MUKJIZAT AGUNG

Al-Quran adalah mukjizat terbesar. Jika mukjizat terdahulu hanya dikurniakan kepada para rasul, mukjizat al-Quran yang Allah SWT beri kepada Rasulullah SAW, kini diwariskan kepada kita pula.

Allah SWT menyatakan perkara ini melalui firman-Nya:

"Kemudian Kami wariskan al-Quran itu kepada orang yang Kami pilih daripada kalangan hamba Kami; maka di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, dan di antaranya ada yang bersikap sederhana, dan ada yang mendahului dalam berbuat kebajikan dengan izin Allah. Yang demikian itu ialah limpah kurnia yang besar daripada Allah semata-mata." (Fatir 35: 32)

Bermakna di tangan kita ini ada perkataan yang luar biasa, perkara yang ajaib.
Persoalannya kenapa umat Islam, dipijak dan dihina di sana sini sedangkan di tangan mereka ada mukjizat?

~ Sumber: 

eBOOK DUA PULUH EMPAT JAM DALAM KEHIDUPAN SEORANG MUSLIM
- HARUN YAHYA

TERAPI DENGAN IBADAH : HASAN BIN AHMAD HAMMAM et. al.
DAR AL-KITAB WA AL-SUNNA INTERNATIONAL PUBLISHING HOUSE (2009) : SR35.00 


Motivasi untuk tilawah Al-Qur’an antara lain adalah sebagai berikut:


Dari `Utsman bin `Affan, dari Nabi bersabda : “Sebaik-baik kalian yaitu orang yang mempelajari Al Qur`an dan mengajarkannya.” (H.R. Bukhari)

Dari Abdullah bin Mas`ud, bahwa Rasulullah SAW. berkata : “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur`an) maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan akan dilipatgandakan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidakmengatakan “Alif lam mim” itu satu huruf, tetapi “Alif” itu satu huruf, “Lam” itu satu huruf dan “Mim” itu satu huruf. (H.R. At Tirmidzi)

Dari Abu Umamah Al Bahili berkata, saya telah mendengar Rasulullah bersabda : “Bacalah Al Qur`an ! maka sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai syafaat bagi ahlinya (yaitu orang yang membaca, mempelajari dan mengamalkannya).” (H.R. Muslim)

Dari Aisyah RadhiyallahuAnha berkata, bahwa Rasulullah SAW. bersabda : “Orang yang membaca Al Qur`an dan ia mahir dalam membacanya maka ia akan dikumpulkan bersama para Malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al Qur`an dan ia masih terbata-bata dan merasa berat (belum fasih) dalam membacanya, maka ia akan mendapat dua ganjaran.” (Muttafaqun `Alaihi)

Dari Ibnu `Umar, bahwa Rasulullah SAW. bersabda : “Tidak boleh seorang menginginkan apa yang dimiliki orang lain kecuali dalam dua hal; (pertama) seorang yang diberi oleh Allah kepandaian tentang Al Qur`an maka dia mengimplementasikan (melaksanakan)nya sepanjang hari dan malam. Dan (kedua) seorang yang diberioleh Allah kekayaan harta maka dia infakkan sepanjang hari dan malam.”(Muttafaqun `Alaihi).

Dari Muadz bin Anas, bahwa Rasulullah SAW. bersabda : “Barangsiapa yang membaca Al Qur`an dan mengamalkan apa yang terdapat di dalamnya, Allah akan mengenaka mahkota kepada kedua orangtuanya pada Hari Kiamat kelak. (Dimana) cahayanya lebih terang dari pada cahaya matahari di dunia. Maka kamu tidak akan menduga bahwa ganjaran itu disebabkan dengan amalan yang seperti ini. ” (H.R. Abu Daud)

BUYA HAMKA & TAFSIR AL-AZHAR


Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan HAMKA, lahir di desa kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981. Beliau adalah ulama besar, sastrawan sekaligus negarawan. Beliau diberi sebutan Buya, sebagai panggilan orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati.

Situs Web ini saya buat sebagai sarana untuk menuangkan kekaguman saya terhadap ulama besar, sastrawan dan negarawan yang pernah dimiliki bangsa Indonesia ini. Saya tidak ada hubungan apapun dengan Buya Hamka kecuali sebagai pengagum beliau.

Buya Hamka bukan hanya dikenal di Indonesia tetapi juga di negeri-negeri Muslim seantero Asia Tenggara bahkan dunia. Beliau pernah mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Univ. Al-Azhar tahun 1958 dan Univ. Kebangsaan Malaysia tahun 1974.

Seseorang sekaliber Hamka sempat bagai terasing di negeri sendiri, peran besarnya dalam perjuangan merebut dan mengisi kemerdekaan bangsa ini seolah tidak diakui oleh bangsanya sendiri. Barangkali karena fatwa haram mengikuti Natal bersama yang dikeluarkan MUI ketika dibawah kepemimpinan beliau yang waktu itu membuat berang penguasa. Hamka memilih mundur daripada harus mencabut fatwa tersebut.

Tanggal 8 November 2011, setelah lebih dari 30 tahun semenjak beliau wafat, akhirnya Hamka diberi gelar pahlawan oleh Pemerintah Republik Indonesia.


Nasehat bagi mereka yang “takut atau terkesan malu-malu” untuk menegakkan syariat Islam juga disampaikan Buya Hamka. Dalam Tafsir Al-Azhar, Hamka menyatakan,

“Sebagai Muslim, janganlah kita melalaikan hukum Allah. Sebab, di awal surah Al-Maaidah sendiri yang mula-mula diberi peringatan kepada kita ialah supaya menyempurnakan segala ‘uqud (janji). Maka, menjalankan hukum Allah adalah salah satu ‘uqud yang terpenting diantara kita dengan Allah. Selama kita hidup, selama iman masih mengalir di seluruh pipa darah kita, tidaklah boleh sekali-kali kita melepaskan cita-cita agar hukum Allah tegak di dalam alam ini, walaupun di negeri mana kita tinggal. Moga-moga tercapai sekadar apa yang kita dapat capai. Karena Tuhan tidaklah memikulkan beban kepada kita suatu beban yang melebihi dari tenaga kita. Kalau Allah belum jalan, janganlah kita berputus asa. Dan kufur, zalim, fasiklah kita kalau kita pecaya bahwa ada hukum yang lebih baik daripada hukum Allah.

Jika kita yang berjuang menegakkan cita Islam ditanya orang, ‘Adakah kamu, hai umat Islam bercita-cita, berideologi, jika kamu memegang kekuasaan, akan menjalankan hukum syariat Islam dalam negara yang kamu kuasai itu? Janganlah berbohong dan mengolok-olokkan jawaban. Katakan terus terang, bahwa cita-cita kami memang itu. Apa artinya iman kita kalau cita-cita yang digariskan Tuhan dalam Al-Qur’an itu kita mungkiri?

Dan kalau ditanya orang pula, tidaklah demikan dengan kamu hendak memaksakan agar pemeluk agama lain yang digolongkan kecil (minoritas) dipaksa menuruti hukum Islam? Jawablah dengan tegas, “Memang akan kami paksa mereka menuruti hukum Islam. Setengah dari hukum Islam terhadap golongan pemeluk agama yang minoritas itu ialah agar mereka menjalankan hukum Taurat, ahli Injil diwajibkan menjalankan hukum Injil. Kita boleh membuat undang-undang menurut teknik pembikinannya, memakai fasal-fasal dan ayat suci, tapi dasarnya wajiblah hukum Allah dari Kitab-kitab Suci, bukan hukum buatan manusia atau diktator manusia. Katakan itu terus terang, dan jangan takut! Dan insflah bahwa rasa takut orang menerima hukum Islam ialah karena propaganda terus menerus dari kaum penjajah selama beratus tahun. Sehingga, orang-orang yang mengaku beragama Islam pun kemasukan rasa takut itu…” (Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juz 6)

Demikian nasihat M Natsir dan Buya Hamka. Sebagai umat Islam, apalagi aktivis Islam, kita harus percaya diri bahwa Islamlah yang cukup dan cakap sebagai aturan dalam mengelola bangsa ini. Apalagi, cita-cita para as-saabiqunal awwalun bangsa ini dalam memerdekaan negeri ini adalah agar hukum Islam bisa ditegakkan, bukan hukum buatan manusia apalagi hukum buatan kolonial. Cita-cita menegakkan Islam harus terus disuarakan dan diperjuangkan. Karena, perjuangan menegakkan syariat Islam adalah perjuangan akidah, bukan perjuangan tawar menawar yang bisa dikompromikan. “Adalah satu hal yang sangat tidak bisa diterima akal; mengaku diri Islam, mengikut perintah Allah dalam hal sembahyang (shalat) tetapi mengikuti teori manusia dalam pemerintahan…” demikian ujar Buya Hamka.- sumber eramuslim

Nota Diri Janji Ku Pada Diri :  LANGKAH MUJAHADAH KU BERMULA,INSHA ALLAH!

TEMAN  IMAN & MINDA KU

Dalam persekitaran semasa,saya beranggapan 4 buah majalah ini amat releven untuk dijadikan teman minda merentasi arus perjalanan hidup masakini.Majalah Al-Ustaz yang fokus utama isu-isu ugama.Majalah Solusi dengan isu kehidupan semasa dan hubungkaitnya dengan fikrah Islamiah.Majalah Anis untuk persoalan kekeluargaan dari sudut pandang Islamiah.Majalah Gen-Q dengan matlamat halatujunya untuk membentuk Generasi Al-Quran.Walau pun pendekatan isi kandungan majalah ini lebih menepati kelompok minda remaja,saya merasakan ilmu Al-Quran yang ada dalam diri saya masih di level remaja (tidak setua usia saya).Makanya majalah ini sesuai untuk saya.

No comments:

Post a Comment