Wednesday, November 15, 2017

Petua Perubatan Dari AlMarhum Tuan Guru Dato Dr Haron Din

Kene simpan ilmu ni baik2...

Orangnya pun dah takda lagi...

(AlMarhum Tuan Guru Dato Dr Haron Din)
1) - Apabila dipatuk ular, penawar ada pada ular itu.
-Ambil sisik terakhir (hujung ekor ) ular tersebut.
-Ambil & makan. InsyaAllah ia akan jadi penawar bagi bisa ular itu.

2) - Disengat ikan sembilang atau ikan keli, penawar ada pada otak ikan tersebut.
- Ketuk kepala ikan, ambil kecik seperti gel
- Ambil & sapu pada bahagian yang disengat

3) - Terkena duri kelapa sawit. Penawarnya ada pada buah kelapa sawit.
- Ambil buah, diketuk/ dipecahkan dan diambil minyaknya
- Jangan ambil menggunakan tangan, sapu menggunakan sabut kelapa sawit itu sekali
- InsyaAllah hilang rasa sakit & cepat sembuh

4) Terkena sihir untuk menceraikan suami isteri
Surah Al - Baqarah, ayat 102

5 ) Resdung
- Ambil 7 botol air kolah dari 7 buah masjid yg berlainan
- Mestilah masjid yang aktif (masjid yang ada org dtg bersolat)
- Setiap kolah masjid, 1 botol.
- Ambil air, letak atas sejadah, buat solat hajat untuk sembuhkan penyakit resdung
- Letak air pada tangan kanan, Baca surah Al- Anbya' , ayat 83.
- Sebelum masukkan air ke dalam hidung, baca selawat syifa'
- Masukkan air ke dalam hidung & buang semula
- Ulang sebanyak 7 kali
Surah Al - Anbya', ayat 83

6) Masalah sakit tumit / sakit2 sendi (rheumatism)
- Gunakan minyak zaitun
- Baca Al - Fatihah & Ayat kursi
- Sapu minyak tersebut atau urut sambil membaca doa di bawah ini :
Surah At- Taubah ayat 14
&
surah Al - Hashr ayat 21

7) Fibroid, atau masalah yang melibatkan wanita
- Menggunakan madu asli
- Baca Al- Fatihah & Ayat kursi
- Baca Surah An - Nahl, ayt 69, jampi ayat tersebut pada madu
- Makan 1 sudu sehari
Surah An -Nahl, ayat 69

8) Angin pasang
- Menggunakan madu
- Amalkan ayat- ayat di bawah ini
-Surah Al - Isra', ayat 82
Surah Al - Hashr, ayat 21
Surah Ash - Shua'ra' ayat 70

9) Penyakit darah tinggi, kencing manis, & masalah jantung
Bahan - bahan :
- Ambil serai 3 batang ( titikkan supaya pecah)
- Halba (yang selalu diletakkan dalam nasi dagang)
- Buah kelapa (yang berhingus)
Cara - cara :
- Serai apabila sudah dititikkan, letak dalam buah kelapa,1 buah kelapa, 3 btg serai.
- Ambil 7 halba, letak sekali dlm buah kelapa.
- Ambil buah kelapa, letak atas api gas & pnaskan.
- Jadikan serai sebagai sudu, ambil isi guna serai.
- Minum air kelapa yang telah suam.
*Satu bji kelapa, selang 2 hari.

10) Susah tidur malam
Surah Al - kahf, ayat 11

11) Angin dalam badan, sakit - sakit sendi
Surah - fussilat, ayat 44

12) Merawat histeria
- Genggam tangan kanan, baca Bismillah, MasyaAllah..
- Baca 3 kali, tiup dalam penumbuk, muncungkan mulut, tiup dengan tiupan yg halus, Tepuk atas tulang belikat pesakit yang terkena histeria.
*Pagar diri dahulu sebelum mengubati orang lain
- As saffat , ayat 7

[Almarhum Tuan Guru Dato Dr Haron Din]

Muhasabah Diri Membersih Hati

Tuesday, November 14, 2017

Zul Salleh Menulis @ Sepanjang Jalan Dari Pendang


"menulislah supaya orang di suatu masa akan datang 
tahu yang kau pernah hidup di suatu masa dahulu" 

Perbaiki Jadwal Sholatmu, Agar Allah Atur Jadwal Hidupmu


Pada suatu hari di awal-awal saat memulai bisnis dulu, saya ketemu masalah seperti ini: saya janjian dengan 3 orang di Jakarta. Saat itu posisi saya di Jogja tanpa banyak kenalan di Jakarta dan cekak banget dananya.

Begini jadwalnya: Pak A janji ketemu hari Senin siang, Pak B hari Rabu pagi dan Bu C di hari Jumat sore. Jika saya mau gampang, saya harus berangkat naik kereta Minggu malam dan menginap di Jakarta 5 hari dan pulang Jumat malam.

Sayanya yang bingung: nginep dimana, biaya makannya dimana? Duh ribet, padahal janjiannya udah di-arrange lama dan posisi orang yang mau saya temui itu Boss-boss semua untuk penawaran kerjaan promosi.

Saya harus mengikuti jadual mereka, saya tak kuasa menentukan jadual karena saya yang butuh.

Pusinglah saya memikirkan jadual yang mustahil itu. Sampai seminggu menjelang harinya, saya ketemu seorang teman, yang ilmu agamanya lumayan.

Karena belum menemukan solusi, saya pun curhat padanya. Teman saya mengangguk-angguk lalu bertanya, “Jadual sholatmu gimana?”

“Jadual sholat? Apa hubungannya?” saya keheranan.

“Sholat subuh jam berapa?” tanpa menjawab pertanyaan saya, dia meneruskan pertanyaannya.

“Errr… Jam setengah enam, jam enam. Sebangunnya lah.. Kenapa,” jawab saya.

“Sholat dhuhur jam berapa?”

“Dhuhur? Jadual sholat dhuhur ya jam 12 lah…” jawab saya.

“Bukan, jadual sholat dhuhurmu jam berapa?” ia terus mendesak.

“Oooh, jam dua kadang setengah tiga biar langsung Asar. Eh, tapi apa hubungannya dengan masalahku tadi?” saya makin heran.

Temen saya tersenyum dan berkata, “Pantas jadual hidupmu berantakan.”

“Lhooo.. kok? Apa hubungannya?” saya tambah bingung.

“Kamu bener mau beresin masalahmu minggu depan ke Jakarta?” tanyanya lagi.

“Lha iya, makanya saya tadi cerita…,” saya menyahut.

“Beresin dulu jadual sholat wajibmu. Jangan terlambat sholat, jangan ditunda-tunda, klo bisa jamaah,” jawabnya.

“Kok.. hubungannya apa?” saya makin penasaran.

“Kerjain aja dulu kalo mau. Enggak juga gak papa, yang punya masalah kan bukan aku…,” jawabnya.

Saya pun pamit, jawabannya tak memuaskan hati saya. Joko sembung naik ojek, pikir saya. Gak nyambung, Jek.

Saya pun mencari cara lain sambil mengumpulkan uang saku buat berangkat yang emang mepet. Tapi sehari itu rasanya buntu, buntu banget.

Sampai saya berfikir, ok deh saya coba sarannya. Toh gak ada resiko apa-apa. Tapi ternyata beratnya minta ampun, sholat tepat waktu berat jika kita terbiasa malas-malasan, mengakhirkan pelaksanaannya. Tapi udahlah, tinggal enam hari ini.

Dua hari berjalan, tak terjadi apa-apa. Makin yakin saya bahwa saran teman saya itu tidak berguna.

Tapi pada hari ketiga, hp berdering. Dari asisten Pak A, “Mas, mohon maaf sebelumnya. Tapi Pak A belum bisa ketemu hari Senin besok. Ada rapat mendadak dengan direksi. Saya belum tahu kapan bisa ketemunya, nanti saya kabari lagi.”

Di ujung telepon saya ternganga, bukannya jadual saya makin teratur ini malah ada kemungkinan di-cancel. Makin jauh logika saya menemukan solusinya, tapi apa daya. Karena bingung, saya pun terus melanjutkan sholat saya sesuai jadualnya.

Di hari berikutnya, hp saya berdering kembali. Dari sekretaris Pak B.

“Mas, semoga belum beli tiket ya? Pak B ternyata ada jadual general check up Rabu depan jadinya gak bisa ketemu. Tadi Bapak nanya bisa nggak ketemu Jumat aja, jamnya ngikut Mas.”

Yang ini saya bener-bener terkejut. Jumat? Kan bareng harinya ama Bu C? Saya pun menyahut, “O iya, tidak apa-apa Pak. Jumat pagi gitu, jam 9 bisa ya?”

Dari seberang sana dia menjawab, “OK Mas, nanti saya sampaikan.”

Syeep, batin saya berteriak senang. Belum hilang rasa kaget saya, hp saya berbunyi lagi. Sebuah SMS masuk, bunyinya:

“Mas, Pak A minta ketemuannya hari Jumat setelah Jumatan. Jam 13.30. Diusahakan ya Mas, tidak lama kok. 1 jam cukup.”

Saya makin heran! Tanpa campur tangan saya sama sekali, itu jadual menyusun dirinya sendiri. Jadilah saya berangkat Kamis malam, ketemu 3 orang di hari Jumat dan Jumat malem bisa balik ke Jogja tanpa menginap!

Saya sujud sesujud-sujudnya. Keajaiban model begini takkan bisa didapatkan dari Seven Habits-nya Stephen Covey, tidak juga dari Eight Habbits. Hanya Allah yang kuasa mengatur segala sesuatu dari arsy-Nya sana.

Sampai saya meyakin satu hal yang sampai sekarang saya usahakan terus jalani: Dahulukan jadual waktumu untuk Tuhan maka Tuhan akan mengatur jadual hidupmu sebaik-baiknya.

Karena saya muslim, saya coba konfirmasikan ini ke beberapa teman non muslim dan mereka menyetujuinya.

Jika dalam hidup ini kita mengutamakan Tuhan, maka Tuhan akan menjaga betul hidup kita.

Tuhan itu mengikuti perlakuan kita kepadanya, makin disiplin kita menyambut-Nya, makin bereslah jadual hidup kita.

Jadi, kunci sukses bisnis ke-3 yang saya bisa shareke teman-teman: Sholatlah tepat waktu, usahakan jamaah.

Jika mau lebih top, tambahin sholat sunnahnya: qobliyah, bakdiyah, tahajjud, dhuha, semampunya.

Silakan dipraktekkan, Insya Allah jadual kehidupan kita (baik bisnis, keluarga maupun personal) akan nyaman dijalani.

Sampai hari ini, saya belum pernah berdoa lagi untuk menambah 24 jam sehari menjadi lebih banyak jamnya. 24 jam sehari itu sudah cukup, jika kita tak hanya mengandalkan logika untuk mengaturnya. Tak kemrungsung, tak buru-buru tapi tanggung jawab terjalani dengan baik.

Jika suatu hari saya menemukan jadual saya kembali berantakan, banyak tabrakan waktunya atau tidak jelas karena menunggu konfirmasi terlalu lama: segera saya cek jadual sholat saya.

Pasti disitulah masalahnya dan saya harus segera beresin sehingga jadual saya akan teratur lagi sebaik-baiknya. Seperti teman-teman sekalian, istiqomah alias konsisten menjalankan ini tentu banyak godaannya.

Tapi kalo gak pake godaan, pasti semua orang akan sukses dong. Jadi emang mesti tough, kuat menjalaninya, jangan malas, jangan cengeng.

-M. Arief Budiman-

****

Apa yang disampaikan pak Arief Budiman, sesungguhnya pengamalan dari hadits Nabi:

Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat:Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” [Hadits Sahih riwatar Imam Tirmidzi, Imam Ahmad]

Monday, November 13, 2017

Matlamat Sebuah Kehidupan


Pelbagai ujian menimpa saya sejak kebelakangan ini, namun Allah menyelamatkan saya sekali lagi daripada lembah putus asa dan kekecewaan. Alhamdulillah, segala puji hanyalah bagi Allah.

Saya disedarkan oleh Allah melalui Firman-Nya :

Yang Bermaksud : “Katakanlah: Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am : 162)

Ayat ini dibaca oleh kebanyakkan kita di dalam solat sewaktu doa iftitah (doa pembukaan) sebelum bacaan surah Al-Fatihah, dan oleh yang demikian secara tidak sedar, kita sebenarnya mengulangi ayat ini sebanyak 5 kali sehari.

Doa iftitah yang mengandungi ayat ini boleh dilihat di dalam hadis riwayat Muslim dan pastinya terdapat sesuatu hikmah mengapa Allah mengajarkan umat Islam supaya menjadikan kalimat ini sebagai doa pembuka ibadah mereka sewaktu berhubung dengan Allah (menunaikan solat).

Hidup ini sebenarnya untuk Ubudiyah

Rupa-rupa-Nya Allah mengehendaki daripada hamba-hamba-Nya supaya menyedari bahawa tujuan kita hidup di atas muka bumi ini ialah untuk Menyembah Allah, Mengabdikan diri kepada Allah dan Hidup kita ini sebenarnya hanyalah sekadar untuk memenuhi suruhan dan perintah Allah swt.

Allah swt berfirman : Yang bermaksud : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdikan diri kepada-Ku.” (Al-Adz-Zariyat : 56)

Al-Imam ibnu Taimiyyah rahimullah ketika ditanya kepadanya apakah yang dimaksudkan dengan Ubudiyah maka beliau pun menjawab sesungguhnya ubudiyah itu ialah ketaatan kepada Allah swt dan melakukan apa yang diredhai serta dikehendaki oleh Allah swt baik berupa perkataan seperti zikir dan doa atau mengucapkan perkataan yang baik, perbuatan hati seperti niat dan hasrat kepada kebaikan serta ikhlas dan juga amalan zahir anggota badan seperti mendirikan solat, berpuasa, menunaikan zakat,mengerjakan haji, memenuhi amanah dan tanggungjawab kepada yang berhak, berlaku adil, menunaikan amar makruf nahi mungkar, berjihad di jalan Allah menentang kuffar dan munafiqin serta musuh Allah swt, berbakti kepada ibu dan bapa, berlaku baik kepada jiran, membaca Al-Quran dan lain-lain kewajipan yang telah disampaikan dengan jelas dan terang oleh Nabi Muhammad salallahualaihiwasalam.

MATLAMAT DAN TUJUAN HIDUP SAYA IALAH UNTUK MEMENUHI PERINTAH ALLAH

Apabila saya memahami bahawa matlamat hidup saya ialah untuk memenuhi perintah Allah dan melaksanakan segala tuntutan agama yang termaktub di dalam Al-Quran dan As-Sunnah maka segeralah saya memahami beberapa perkara.

Pertama : Al-Quran dan As-Sunnah ialah “Panduan dan Arahan” daripada Allah dan rasul kepada saya untuk dilaksanakan.

Memahami hal tersebut, saya terpaksa mengamalkan kaedah “belajar untuk beramal” dengan setiap apa yang saya ketahui tentang ilmu berkenaan agama daripada Al-Quran dan As-Sunnah.

Allah berfirman: Yang bermaksud : “Dan Al-Quran itu kami bahagi-bahagikan dia supaya engkau bacakan dia kepada manusia dengan lambat-tenang dan kami turunkan dia dengan-beransur-ansur.” (Al-Israa: 106)

Bukankah banyak perkara yang terkandung di dalam Al-Quran ? Ya, tersangat banyak kerana itulah Allah memberikan saya sejumlah usia untuk menunaikan segala arahan daripada Al-Quran dan As-Sunnah yang termampu di dalam hayat saya di dunia ini.

Firman Allah swt yang bermaksud : “Katakanlah, "Beramallah, dan Allah pasti akan melihat amalan kamu, dan rasul-Nya, dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada-Nya, yang tahu yang ghaib dan yang nampak, dan Dia memberitahu kamu apa yang kamu telah buat." (At-Taubah : 105)

Kelak di akhirat, Allah akan menilai sebanyak manakah, sejauh manakah, setahap manakah tugasan dan arahan yang diberikan melalui Al-Quran dan As-Sunnah itu yang saya telah tunaikan…

Saya segera memahami bahawa saya tiada masa untuk dibuang, saya perlu fokus untuk menghadapi peperiksaan Allah di hari akhirat. Masih banyak subjek yang perlu saya pelajari daripada kitab dan As-Sunnah dan terlalu banyak kerja latihan yang perlu saya siapkan untuk membolehkan saya lulus ujian Allah agar saya beroleh kejayaan.

Kedua : Kehidupan saya sebenarnya untuk Allah, saya milik Allah, saya tidak mempunyai apa-apa sebenarnya dan segala apa yang berada di sekeliling saya sebenarnya ialah alat yang dipinjamkan oleh Allah kepada saya untuk digunakan bagi menunaikan tuntutan ubudiyah.

Sewaktu saya lahir, saya memiliki ibubapa, saya disuruh taat kepada mereka oleh Allah swt, namun mereka hanyalah ibubapa saya. Mereka akan pergi meninggalkan saya dan demikian juga saya.

Hubungan saya dengan mereka hanyalah sebagai “alat” untuk memudahkan saya melaksanakan tugas ketaatan kepada Allah.

Begitulah juga hubungan saya dengan manusia lainnya, kawan dan rakan bahkan sehinggalah kepada isteri dan anak saya. Mereka hanyalah “alat” yang diberikan oleh Allah kepada saya untuk menunaikan kewajipan kepada Allah.

Andai saya memiliki “alat” untuk melaksanakan tugas saya sebagai hamba Allah maka saya bersyukur dan sekiranya tidak maka saya tetap bersyukur. Boleh jadi Allah mengetahui bahawa saya tidak memerlukan alat tersebut kerana mungkin akan membuatkan kerja saya menjadi lebih sukar jika terpaksa memikul atau membawa alat.

Allah yang maha mengetahui apa yang terbaik untuk saya.

Ketiga : Perasaan sedih, suka, gembira, derita dan kecewa serta lain-lain perasaan yang dirasai oleh saya sebenarnya hanyalah ujian Allah kepada saya untuk melihat ketaatan saya apakah ianya mencakupi lisan, hati dan perbuatan.

Ujian ini penting untuk melihat sejauh manakah ketaatan saya dan seteguh manakah ikatan saya dengan Allah swt.

Apabila saya berasa sedih, saya perlu bertanya kenapakah saya bersedih ? Wajarkah saya bersedih dan apakah ianya disuruh atau ditegah oleh Allah ?

Firman Allah swt yang bermaksud : “ Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah nescaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At-Thagabun : 11)

Apabila berlaku sesuatu kejadian yang saya tidak sukai seperti kehilangan sesuatu, dibenci oleh seseorang dan sebagainya tentulah saya berasa sedih tetapi saya perlu melihat kembali apakah hal yang berlaku itu diizinkan oleh Allah kepada saya untuk bersedih ?

Rasulullah salalallahualaihiwasalam diriwayatkan pernah bersabda yang bermaksud: “Tidaklah beriman seseorang daripada kamu sehingga dia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam).” (Hadis riwayat Hakim)

Semenjak saya memahami bahawa saya hidup hanya untuk Allah, perasaan saya juga haruslah mengikut kehendak Allah, hati saya hanya perlulah bersedih pada hal yang Allah izinkan saya untuk bersedih dan saya perlu gembira pada perkara yang Allah perintahkan saya untuk bergembira dan menikmatinya.

Perasaan saya seperti kecewa, derita dan bahagia berlaku hanya dengan menuruti apa yang diperintahkan oleh Allah swt seperti yang disebut oleh kitab suci Al-Quran dan As-Sunnah.

Ke-Empat : Saya wajib beramal untuk Allah semata-mata dan mengharapkan keredhaan Allah kerana hal yang demikian itu diperintahkan oleh Allah swt dan bukan beramal kerana selain-Nya disebabkan hal itu merupakan syirik (mengadakan sekutu bagi Allah dengan sesuatu) apabila amalan saya dilakukan untuk selain Allah, mengharapkan selain Allah dan kerana selain Allah.

Masyarakat kita termasuk saya sendiri, terkadang melakukan sesuatu perkara demi kepuasan diri sendiri, kita beramal kerana hendak melihat hasilnya,ingin menikmati hasilnya… kenapa ? jawapannya kerana itulah yang kita mahu.

Amalan kita itu hanya untuk kita, kehendak kita, jadi ianya tidak dilakukan kerana hendak memenuhi kehendak Allah.

Kita belajar kerana kita hendak pandai (pandai ialah hasil daripada belajar), apabila pandai kita boleh mendapat pekerjaan yang baik kerana itulah yang kita mahu, jadi di manakah hasrat (niat) melakukan sesuatu kerana Allah ? ianya tiada …kerana kita telah menjadi hamba kepada hasrat kita bukan Allah.

Firman Allah swt yang bermaksud : “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah..” (An-Nisa : 125)

Apabila kita belajar kerana Allah, untuk Allah dan supaya kita menjadi tahu untuk melaksanakan apa yang Allah kehendaki dengan tepat kerana untuk memenuhi kehendak Allah…semuanya kerana Allah.

Sabda baginda nabi sallahualaihiwasalam : "Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan baginya Maka Allah akan memberikannya kefahaman dalam urusan agama" (Hadis Sahih, riwayat Bukhari & Muslim).

Disebabkan itulah akhirnya, saya perlu memahami tugas saya hanyalah beramal dengan apa yang diperintahkan, jika saya memiliki “alat” untuk memudahkan kerja saya maka ianya merupakan pertolongan Allah supaya kerja saya dipermudahkan dan jika tidak maka saya perlu bersabar dan tetap meneruskan kerja yang diperintahkan oleh Allah walaupun sukar kerana itulah tugas saya untuk melakukan apa yang diperintahkan.

Sabda baginda rasulullah salallahualaihiwasalam : “ Apabila aku memerintahkan kamu dengan sesuatu urusan maka hendaklah kamu memenuhinya semampu kamu.” (hadis sahih, riwayat bukhari dan Muslim no. 3199).

Hal ini menyebabkan saya menjadi tenang dan lapang, tiada lagi kesedihan yang berpunca daripada syaitan membisikkan godaan, bahawa andai saya punyai harta, tugas saya akan menjadi lebih mudah, andai saya punyai wanita maka kerja saya akan menjadi lebih selesa dan andai saya punyai itu dan ini.

Wanita (isteri), harta, anak, pangkat dan kuasa.

Kesemua hal itu adalah alat, pemiliknya ialah Allah, saya boleh meminta tetapi terpulang kepada tuan-Nya apakah mahu meminjamkannya kepada saya.

Manusia yang tidak sabar, tidak beriman kadang-kadang mereka mencuri “alat” yang merupakan milik Allah itu. Mencuri maksudnya mengambil tanpa izin dan tanpa keredhaan Allah. Akibatnya dimurkai dan tidak diredhai.

Apalah gunanya ada “alatan” kerana jika digunakan sekalipun untuk beramal, amalan tersebut tidak diterima, puncanya ? Alatan yang digunakan merupakan alatan curi.

Kerana itulah segalanya kembali kepada Allah.

Kelima : Saya wajib bergantung sepenuhnya kepada Allah, maksudnya harapan, permintaan dan pertolongan yang saya inginkan semuanya harus saya tujukan kepada Allah. Kerana tanpa pergantungan kepada Allah saya tidak akan mampu menunaikan kewajipan saya

Apabila saya tidak bergantung kepada Allah, saya melakukan amalan dan melaksanakan kerja yang diperintahkan dengan bergantung serta harap kepada kekuatan saya, kecerdikan saya dan kepada kepandaian serta perancangan dan kemampuan saya maka akhirnya saya akan menjadi syirik (mengadakan sekutu bagi Allah) kerana tidak menjadikan Allah sebagai tempat pengaduan, harapan dan tempat memohon pertolongan.

Lebih teruk daripada itu, kerja saya tidak akan terlaksana, saya akan menghadapi masalah, tekanan dan ujian yang dahsyat dan tidak tertanggung oleh akal dan fikiran, tidak dapat ditampung oleh hati dan perasaan menyebabkan kesedihan dan penderitaan dan akan berlaku pelbagai kesilapan yang mengakibatkan kekecewaan dan kekalahan, putus asa sehingga akhirnya boleh mengakibatkan saya kekal di dalam kehinaan.

Hal ini bertentangan dengan hadis dari baginda rasul yang diriwayatkan oleh Anas Bin Malik ra bahawa “ Sesungguhnya nabi salallahualaihiwasalam pernah masuk menemui seorang pemuda yang berada dalam keadaan tenat, lalu baginda bertanyakan keadaan beliau maka dijawab : ya rasulullah, aku mengharap kepada Allah namun aku juga takut akan dosaku. Maka dijawab oleh rasulullah : Tidaklah berkumpul dua perasaan antara takut dan harap kepada Allah dalam hati seorang hamba seperti keadaan ini melainkan Allah akan memberikan apa yang diingininya dan mengamankannya dari apa yang ditakutinya.” (hadis ini bertaraf hasan riwayat tirmidzi dan Ibnu majah).

Kerana itu saya perlu bergantung kepada Allah, akal saya berusaha sekadar mampu dan selebihnya saya berserah kepada Allah, perkara yang tidak dapat saya selesaikan dengan kemampuan saya ianya diserahkan kepada Allah, itulah maksud pergantungan kepada Allah.

Sabda baginda salallahualaihiwasalam : “ Janganlah kamu mati melainkan berada dalam keadaan husnul zon (bersangka baik) dengan Allah swt.” (hadis Sahih riwayat Muslim, Ahmad dan Baihaqi).

Berserah kepada Allah bukan bermaksud membiarkan Allah yang melaksanakan bagi pihak saya, itu salah kerana DIa adalah Tuhan saya, masakan saya akan membiarkan tuhan saya melaksanakan kerja-kerja hamba-Nya ?

Sudah tentu tidak, habis ? Sebagai hamba yang lemah, hina dan bodoh, saya bergantung kepada tuhan saya dengan memohon kepada-Nya supaya diberikan sedikit kekuatan, pertolongan dan bantuan untuk menunaikan tugas saya sebagai hamba.

Saya sendiri yang harus menunaikan dan menyempurnakan kewajipan saya sebagai hamba, itu tugas saya tetapi melalui pergantungan saya kepada Allah, tugas saya mungkin akan diringankan, diberi bantuan dan diberi pertolongan…itulah maksud pergantungan kepada Allah.

Kesimpulannya : Setiap apa yang termaktub di dalam Al-Quran dan As-Sunnah itu sebenarnya merupakan kewajipan yang perlu kita tunaikan, tiada istilah “tidak mampu” dan “tidak bersedia” atau apa jua alasan untuk tidak melaksanakannya. Allah telah memberikan kita umur, masa, tenaga, rezeki dan segalanya di atas muka bumi ini hanya untuk tujuan itu supaya kita akan dapat melaksanakan perintah-Nya.

Kerana itulah pergantungan dan keyakinan kepada Allah itu akan menjadi kekuatan kepada kita untuk melaksanakan segala perintah Allah sekalipun terasa berat dan sukar untuk dilaksanakan.

Dari Mus’ab bin Said dari bapanya ra yang berkata : "Aku bertanya kepada rasulullah siapakah manusia yang paling dahsyat menerima bala ? Maka dijawab : Para nabi kemudian yang seperti mereka dan yang seperti mereka. Diuji seorang manusia itu berdasarkan kadar agamanya, jika dia seorang yang kuat beragama maka kuatlah pula bala yang diterimanya, dan jika seseorang itu lemah agamanya maka diuji hanya pada kadar agamanya. Tidaklah hilangnya bala itu pada seorang hamba sehinggalah dia berjalan di atas tanah dengan telah terhapus segala dosa-dosanya.” (hadis hasan Sahih, riwayat tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah, Ahmad).

Kita semua berhak diuji

Kadang-kadang terkeluar ucapan syirik daripada mulut kita tanpa disedari, misalnya kita selalu berkata, saya tidak bersedia untuk diuji. Kenapa hal ini menimpa saya ? kenapa jadi begini ? Apa salah saya ?

Subhanallah (Maha Suci Allah) !

Apakah Allah tidak mengetahui keadaan kita ? Allah jahil ? mustahil, Allah tidak peka dan tidak perihatin akan situasi kita ? Sungguh mustahil !

Firman Allah swt yang bermaksud : “Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (At-Thaghabun : 4)

Lalu kenapa kita tetap diuji juga ? kenapa kita tetap ditimpa bencana dan cabaran di dalam kehidupan juga ?

Jawapannya ialah kerana itulah kehendak Allah, MasyaAllah !

Allah mahu menguji kita, kita hamba-Nya, hak Allah untuk berbuat apa-apa sahaja terhadap kita kerana dia ialah tuhan kita.

Kita tidak memiliki apa-apa.

Kesedaran itulah pertanda awal bahawa kita menyedari siapa diri kita iaitu seorang hamba.

sumber : http://ustaz.blogspot.com/2009/03/matlamat-sebuah-kehidupan.html

Me,My Books,My Life - Insha Allah!


MAKTABAH ILMIAH SDN. BHD. (2017) : RM35.00
TEMAN TETAMU ALLAH : DARUL NU'MAN
DARUL NU'MAN (2012) : RM7.00